um-logobrand_um_fix50352_117924181578178_1232155_nurl
Tampilkan postingan dengan label Sistem Pengisian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sistem Pengisian. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Juni 2011

Mengidentifikasi Kesalahan/Kerusakan Sistem pengisian

Diagnosis kesalahan/kerusakan yang umum terjadi pada sistem pengisian adalah sebagai berikut;

1. Alternator tidak terjadi pengisian
  • Slip/rusak pada drive belt
  • Dioda lepas
  • Gulungan sirkuti pada stator terlepas
  • Sirkuit luar terlepas
  • Sikat dan slip ring sudah usang
  • Voltage regulator rusak
2. Rendahnya pengisian baterai
  • Drive belt pada alternator slip
  • Korosi pada terminal baterai
  • Resistansi tinggi pada sirkuit pengisian
  • Regulator rusak
  • Tidak ada tegangan positif yang menuju regulator
3. Pengisian berlebihan
  • RTegangan output alternator melebihi spesifikasi
  • Tegangan standar regulator yang terlalu tinggi
  • Tidak ada tegangan positif yang menuju ke regulator
  • Regulator rusak
4. Alternator berisik
  • Bearing shaft daus/rusak
  • drive belt slip
  • Terjadi resonansi magnet

Masalah-masalah pada alternator bisa ditest dengan menggunakan "Alternator Bench Tester"

Alternator Bench Tester

Berikut tayangan video tentang pembongkaran alternator dan pengujian kerusakannya dengan menggunakan Alternator Bench Tester




Sumber
Rujukan : Step II Toyota
Video by : alternatorparts.com

Pengujian Sistem Pengisian

Menguji tegangan output pada alternator
  • Sebelum pengujian siapkan perlengkapan K3 seperti kacamata, dan sarung tangan untuk menghindari hal yang tidak diinginkan nantinya selama proses pengujian.
  • Pergunakan multimeter tester sebagai alat untuk menguji tegangan output pada alternator.
  • Arahkan gas buang pada knalpot ke udara bebas, dan pastikan tidak berada diruangan tanpa sirkulasi udara. Karbon monoksida sangat beracun dan berbahaya.
  • Posisikan transmisi pada posisi P "Parking" dan aktifkan hand rem.
Proses pengujiannya sebagai berikut
  1. Buka kap mobil
  2. Posisikan multimeter pada DC Volt
  3. Hubungkan terminal (+) warna merah pada multimeter ke terminal (+)  baterai, dan juga sebaliknya hubungkan terminal (-) warna hitam pada multimeter ke terminal (-) baterai.
  4. Lihat tegangan normal baterai. 12,5-12,8 volt
  5. Nyalakan mesin
  6. Lihat tegangan outputnya maka akan terbaca sekitar 13,8-14,8 volt
  7. Nyalakan AC, head lamp, stereo, wiper
  8. Apabila tegangan masih berkisar 13,8-14,8 volt dan tidak mengalami penurunan maka alternator dalam keadaan baik.
  9. Setelah pengujian, lepaskan kembali terminal (+/-) multimeter pada baterai.
  10. Tutup kembali kap mobil
  11. Selesai
Untuk memperjelas silahkan play video "pengujian alternator" dibawah ini

 

sumber : autoupkeep.com
by     : Youtube

    Selasa, 31 Mei 2011

    Prinsip Kerja Sistem Pengisian

    1. Cara kerja pada saat kunci kontak ON dan mesin mati




    Bila kunci kontak diputar ke posisi ON , arus dari baterai akan mengalir ke rotor dan merangsang rotor coil. Pada waktu yang sama, arus baterai juga mengalir ke lampu pengisisan (CHG) dan akibatnya lampu menjadi menyala (ON).
    Secara keseluruhan mengalirnya arus listrik sebagai berikut :
    • Arus yang ke field coil
    Terminal (+) baterai→fusible link→kunci kontak (IG switch)→fuse→terminal IG regulator →point PL1→point PLo→terminal F regulator→terminal F alternator → brush→slip ring→rotor coil→slip ring→brush→terminal E alternator→massa bodi. Akibatnya rotor terangsang dan timbul kemagnetan yang selanjutnya arus ini disebut arus medan (field current).
    • Arus ke lampu charge     
    Terminal (+) baterai→fusibler link→sakelar kunci kontak IG (IG switch) sekering→ lampu CHG→terminal L regulator→titik kontak P0→titik kontak P1→terminal E regulator→massa bodi. Akibatnya lampu charge akan menyala.
    2. Cara kerja saat kecepatan rendah ke sedang

    Sesudah mesin hidup dan rotor berputar, tegangan/voltage dibangkitkan dalam stator coil, dan tegangan netral dipergunakan untuk voltage relay, karena itu lampu charge jadi mati. Pada waktu yang sama, tegangan yang dikeluarkan beraksi pada voltage regulator. Arus medan (field current) yang ke rotor dikontrol dan disesuaikan dengan tegangan yang dikeluarkan terminal B yang beraksi pada voltage regulator.Demikianlah, salah satu arus medan akan lewat menembus atau tidak menembus resistor R, tergantung pada keadaaan titik kontak PL0




    Catatan :
    Bila gerakan P0 dari voltage relay, membuat hubungan dengan titik kontak P2, maka pada sirkuit sesudah dan sebelum lampu pengisian (charge) tegangannya sama. Sehingga pada arus tidak akan mengalir ke lampu dan akhirnya lampu mati. Untuk jelasnya aliran arus pada masing-masing peristiwa sebagai berikut :
    • Tegangan Netral
      Terminal N alternator→terminal N regulator→magnet coil dari voltage relay→terminal E reguilator→massa bodi. Akibatnya pada magnet coil dari voltage relay akan terjadi kemagnetan dan dapat menarik titik kontak P0 dari P1 dan selanjutnya P0 akan bersatu dengan P2. Dengan demikian lampu pengisian (charge) jadi mati
    •  Tegangan yang keluar (output Voltage)
    Terminal B alternator→terminal B regulator→titik kontak P2→titik kontak P0→magnet coil dari voltage regulator→terminal E regulator→massa bodi. Akibatnya pada coil voltage regulator timbul kemagnetan yang dapat mempengaruhi posisi dari titik kontak (point) PL0. Dalam hal ini PL0 akan tertarik dari PL1 sehingga pada kecepatan sedang PL0 akan mengambang (seperti terlihat pada gambar diatas).
    • Arus yang ke Field (Field Current)
    Terminal B alternator→IG switch→Fuse→terminal IG regulator→Point PL1→Point PL0→ Reristor R→Terminal F regulator→Terminal F alternator→Rotor coil→ terminal E alternator→ massa bodi.
    Dalam hal ini jumlah arus/tegangan yang masuk ke rotor coil bisa melalui dua saluran.
    →Bila kemagnetan di voltage regulator besar dan mampu menarik PL0 dari PL1, maka arus yang ke rotor coil akan melalui resistor R. Akibatnya arus akan kecil dan kemagnetan yang ditimbulkan rotor coil-pun kecil (berkurang).
    →Sedangkan kalau kemagnetan pada voltage regulator lemah dan PL0 tidak tertarik dari PL1, maka arus yang ke rotor coil akan tetap melalui point PL1 →point PL0.
    Akibatnya arus tidak melalui resistor dan arus yang masuk ke rotor coil akan normal kembali.
    • Out Put Current
    Terminal B alternator →baterai dan beban→massa bodi.
    3. Saat kecepatan sedang ke tinggi




    Bila putaran mesin bertambah , voltage yang dihasilkan oleh kumparan stator naik, dan gaya tarik dari kemagnetan kumparan voltage regulator menjadi lebih kuat. Dengan daya tarik yang lebih kuat, field current yang ke rotor akan mengalir terputus-putus (intermittently). Dengan kata lain , gerakan titik kontak PL0 dari voltage regulator kadang-kadang membuat hubungan dengan titik kontak PL2.
    Catatan :
    Bial gerakan titik kontak PL0 pada regulator berhubungan dengan titik kontak PL2, field current akan dibatasi. Bagaimanapun juga point P0 dari voltage relay tidak akan terpisah dari point P1, sebab tegangan netral terpelihara dalam sisa flux dari rotor. Aliran arusnya adalah senagai berikut :
    • Voltage Netral (Tegangan Netral) 
    Terminal N alternator→terminal N regulator→magnet coil dari voltage relay→ terminal E regulator→massa bodi. Arus ini juga sering disebut netral voltage.
    • Out Put Voltage 
    Terminal B alternator→terminal B regulator→point P2→point P0→magnet coil dari N regulator →terminal E regulator→massa bodi.. Inilah yang disebut dengan Output voltage.
    • Tidak ada arus ke Field Current
    Terminal B alternator →IG switch→fuse→terminal IG regulator→resistor R→ Terminal F regulator→terminal F alternator→rotor coil→atau dari resistor R→point PL0→Point P2→ ground (No.F.C) →Terminal E alternator→massa (F Current).
    Bila arus resistor R→mengalir teminal F regulator→rotor coil→massa, akibatnya arus yang ke rotor ada, tapi kalau PL0 nempel PL2 -maka arus mengalir ke massa sehingga yang ke rotor coil tidak ada.
    • Out Put Current 
    Terminal B alternator→baterai/beban→massa.

    Sumber
    Rujukan : Step I Toyota
    Flash Animation : m-edukasi.net

    Komponen Sistem Pengisian dan Fungsinya

    Komponen pada sistem pengisian terdiri dari;

    1. Alternator

    Fungsi dari alternator adalah untuk merubah energi mekanis yang didapatkan dari mesin menjadi tenaga listrik.

     

    Fungsi komponen dari alternator adalah sebagai berikut;

    • Puli (pulley), berfungsi sebagai tempat tali kipas penggerak rotor
    • Kipas (fan), berfungsi untuk mendinginkan diode dan kumparan-kumparan pada alternator
    • Rotor, berfungsi untuk membangkitkan kemagnetan
    • Stator, berfungsi untuk menghasilkan arus bolak-balik AC
    • Rectifier (diode), berfungsi untuk menyearahkan arus AC menjadi DC
    2. Regulator

    Fungsi dari regulator adalah mengatur besar arus listrik yang masuk kedalam rotor coil sehingga tegangan yang dihasilkan alternator tetap konstan (sama) menurut harga yang ditentukan meskipun putarannya berubah-ubah.



    Seperti gambar diatas regulator tipe point terpisah dengan alternator sedangkan tipe IC melakat pada badan alternator.

    Kelebihan regulator tipe IC

    • Rentang tegangan outputnya lebih sempit dan variasi tegangan outputnya dalam waktu singkat.
    • Tahan terhadap getaran dan dapat digunakan dalam waktu lama karena tidak banyak bagian-bagian yang bergerak.
    • Kerena tegangan outputnya rendah suhunya naik, pengisian baterai dapat dilakukan dengan baik.
    Kekurangan dari regulator tipe IC
    • Mudah terpengaruh oleh tegangan dan suhu tidak wajar.


    Sumber
    Rujukan : Step I Toyota


    Untitled3